Select Menu

Berita Utama

Pemerintahan

Sosial

News Politik

News Hukrim

News Buru Selatan

News Buru

News Pariwisata

» » » » MPM Bursel Demo Soroti Pemerintahan Tagop
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

Namrole, SBS.
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Majelis Progres Mahasiswa Buru Selatan (MPM-Bursel), Selasa (11/8) menggelar aksi demo memprotes pemerintahan Kabupaten Bursel yang dipimpin oleh Bupati, Tagop Sudarsono Solissa.
Aksi demo yang dilakukan oleh delapan orang aktivitas mahasiswa di depan Kantor Bupati Kabupaten Bursel itu dikoordinir oleh Koordinator Lapangan (Korlap), Shemy Mony.
Para mahasiswa ini datang dengan menggunakan mobil pick up berwarna biru tua dengan nomor polisi L 9676 Y yang bertuliskan kata Linas pada kaca depannya. Dimana, pendemo itu pun turut membawa bendera merah putih dan alat pengeras suara.
Pendemo itu tiba di depan Kantor Bupati Bursel tiba di depan Kantor Bupati Bursel pukul 12.00 WIT dan langsung melakukan orasi dibawa pimpinan Senen Mony.
Dalam orasinya itu, para pendemo menyoroti kinerja Bupati Kabupaten Bursel, Tagop Sudarsono Soulisa  yang diduga telah terlibat sejumlah rangkaian korupsi yang dilakukan secara berjamaah bersama dengan perangkat pemerintahan yang dipimpinnya. Bahkan, para pendemo mengklaim bahwa karena diduga terlibat sejumlah kasus korupsi, Tagop bahkan sedang diincar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Saat ini ada dua Bupati di Maluku yang diincar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), salah satunya adalah Bupati Bursel, Tagop Sudarsono Solissa,” teriak mereka.
Menurut mereka, sesuai hasil pemeriksaan Badan Pemeriksan Keuangan (BPK) Provinsi Maluku yang dibawah pihaknya, maka seharusnya Tagop dan jajaran pemerintahannya sudah dijerat dan mempertanggung jawabkan pelanggaran hukumnya sesuai hukum yang berlaku.
“Bukti hasil pemeriksaan BPK tiga rangkap yang kami miliki ini bisa menjerat Tagop dan para pimpinan SKPD di daerah ini,” kata mereka sambil mengangkat bukti hasil pemeriksaan BPK.
Lebih lanjut, mereka pun meminta pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku untuk serius memproses hukum kasus korupsi Rumput Laut di Kecamatan Kepala Madan yang diduga turut melibatkan Tagop.
“Uji Forensik di Laboratorium Forensik Makasar pun akan kami kawal hingga Tagop dipenjara,” papar mereka.
Lebih dari itu, mereka pun menilai bahwa berbagai pembangunan infarstruktur jalan, utamanya jalan lintas Namrole-Namlea bukanlah hasil perjuangan dari Tagop selaku Bupati Bursel.
“Jalan lintas Namrole-Namlea itu dikucurkan oleh pemerintah pusat melalui Balai Jalan dan Jembatan Wilayah Provinsi Maluku, bukan dari APBD Kabupaten Bursel atau hasil perjuangan Tagop,” teriak mereka.
Tak hanya itu, para mahasiswa ini pun membeberkan bahwa Tagop sering mengakui bahwa Bursel merupakan Kabupaten di wilayah Maluku yang mendapatkan anggaran terbesar dari pemerintah pusat. Tetapi, kenyataannya ada sejumlah proyek infrastruktur di Bumi Fuka Bipolo ini yang belum tuntas dikerjakan dan terkesan terbengkalai.
Tambah mereka lagi dalam orasinya, kepemimpinan Tagop saat ini telah melebihi kepemimpinan Hitler maupun kepemimpinan mantan presiden Indonesia, Soeharto dan dianggab telah menyengsarakan masyarakat di Kabupaten yang kental dengan budaya Ina Ama Kai Wait itu.
Parahnya lagi, kata mereka, Tagop bukanlah Bupati yang baik, melainkan Bupati preman yang sering kali berupaya mengekang hak menyampaikan pendapat para mahasiswa dengan berbagai upaya dan intimidasi dari sejumlah preman.
“Tagop itu bukan Bupati yang baik, Tagop itu Bupati preman. Sebab, preman pernah mengancam saya untuk dibunuh. Saya mau mau katakan bahwa jangan mengancam dengan kematian, sebab semua orang akan mati,” papar salah satu orator lainnya.
Bahkan, orator tersebut pun menuding bahwa Tagop ketakutan ketika pihaknya menyoroti berbagai kekurangan dan pelanggaran hukum yang telah dilakukan Tagop selama ini.
“Kalau Tagop tidak takut, mengapa kita diancam mau dibunuh. Kalau Tagop tidak takut, mengapa demo kita mau dibatasi. Ini pertanda ada dosa dan pelanggaran yang telah dilakukannya,” teriak orator lainnya.
Dirinya pun mengaku heran, karena para mahasiswa asal Bursel maupun politisi di Bursel saat ini terkesan diam dan pro terhadap kepemimpinan Tagop dan tak lagi lantang menyuarakan hak-hak masyarakat di Bursel yang tak ternikmati secara baik.
“Murah sekali harga mahasiswa dan politisi di daerah ini. Sebab, dulu banyak yang lantang berbicara menyuarakan hak-hak masyarakat, tetapi kini diam karena bisa dibayar dengan APBD,” teriak mereka lagi.
Bahkan, lanjutnya, jika para mahasiswa dan politisi itu turut menikmati APBD tidak pada peruntukannya dan ada indikasi turut terlibat dalam penylewengan APBD Bursel, maka para mahasiswa maupun politisi di Bursel itu sudah sama dengan Tagop.
“Demo ini benar-benar keterpanggilan kami sebagai mahasiswa Bursel yang selama ini berkuliah di Jakarta, bukan dipolitisasi. Jangankan dibayar milyaran rupiah, triliuan pun tidak akan kami terima, sebab hak-hak masyarakat di Kabupaten Bursel harus diperjuangkan, bukan dikekang dengan APBD,” tegas mereka.
Aksi orasi itu terus dilakukan hingga pukul 13.00 WIT, namun tak ada satu pun pejabat Pemkab Bursel yang menerima pendemo. Tak lama kemudian, Kabag Kesra Setda Kabupaten Bursel, Mansur Mony yang memiliki kekerabatan dengan pendemo pun kemudian menghampiri pendemo, namun pendemo kemudian membubarkan diri dengan damai tanpa menghiraukan kedatangan Mansur yang ingin merebut microfon mereka itu. (SBS-02).



Bagi Berita Ini

About SUARA BURU SELATAN

Suara Buru Selatan adalah Admin yang mengelolah Artikel dan Berita di website www.SuaraBuruSelatan.com. Website ini Menyajikan beragam Berita. Objek pemberitaan meliputi Kabupaten Buru dan Kabupaten Buru Selatan. Tank's sudah berkunjung ke Website kami. Hubungi kami di E_mail : Su4rabursel@gmail.com No. Hp 08121443461 Regard's, SBS
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply

Mohon berkomentar dengan attitude yang baik...