Select Menu

Berita Utama

Pemerintahan

Info Kota Ambon

News Politik

News Hukrim

Berita Kabupaten Buru

Kabupaten Buru Selatan

News Pariwisata

Namrole, SBS 
Bupati Buru Selatan (Bursel) Tagop Sudarsono Soulisa mengaku bahwa pihaknya telah menerima Alat Pelindung Diri (APD) dan Rapid Diagnostic Test (RDT) dari Pemerintah Provinsi Maluku, Kamis (02/04).

“Iya. APD Bantuan Pemprov sudah diterima  dan Rapid Test,” kata Tagop yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Kabupaten Bursel kepada Wartawan melalui WhatsApp, Kamis (02/04).

Tak hanya itu, lanjut Tagop, selain bantuan dari Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kabupaten Bursel pun telah menyediakan sejumlah APD dan sejumlah peralatan kesehatan maupun obat dalam rangka percepatan penanganan Virus Corona.

“Selain itu juga, Pemda Kabupaten juga mempersiapkan APD, alat pengukur  panas badan (Termogun), Rapid Test, Sarung Tangan, vitamin vitamin sesuai standar dan lain-lain sesuai standar WHO,” terangnya.

Namun, untuk detail rincihan bantuan Pemerintah Provinsi Maluku maupun yang diadakan sendiri oleh Pemerintah Kabupaten Bursel, Tagop belum bisa merincihnya. Ia meminta wartawan mengkonfirmasi hal itu langsung ke Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kabupaten Bursel, Ibrahim Banda.
Sementara itu, Ibrahim kepada wartawan di Poskoh Gugus Tugas yang berlokasi di Kantor Bupati Bursel, Kamis (02/04) menjelaskan bahwa pihaknya memang telah menerima APD maupun RDT.

“Karena kita di Kabupaten bursel ini mungkin berdasarkan kita punya OPD 5 orang dan kita punya pelaku perjalanan itu baru 300-an tapi terpantau secara keseluruhan sehingga mungkin dari Dinas Kesehatan Provinsi atau Satuan Gugus Tugas Provinsi lebih mempriotaskan daerah yang ODPnya lebih banyak. Jadi kita baru terima 55 shet APD dan kita juga sudah terima Rapid Diagnostic Test (RDT),” terangnya.

Hanya untuk jumlah, RDT, Ibrahim pun belum bisa merincihkannya karena kiriman tersebut belum dibuka sehingga belum ditemukan Surat Pengantar yang menjelaskan terkait dengan jumlahnya.

“Sampai sekarang kita belum buka dan belum ketemu surat pengantarnya. Biasanya ada surat pengantarnya. Jika sudah temukan surat pengantarnya baru kita sampaikan, tapi barangnya sudah tiba tadi,” ucapnya.

Sedangkan untuk pengadaan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bursel, lanjut Ibrahim, cukup banyak persediaan sehingga pihaknya tidak terlalu panik terhadap persediaan-persediaan tersebut. Sebab, saat ini separuhnya sudah ada dan separuhnya lagi masih dalam perjalanan dan direncanakan hari Jumat (03/04) sudah tba di Namrole.

Ia menjelaskan, semula pihaknya mengusulkan pengadaan sebanyak 150 APD, tetapi karena terbatasannya pendanaan, maka APD yang diadakan hanya sebanyak 102 buah. Sedangkan untuk termoga yang diadakan sebanyak 35 buah bersamaan dengan batreinya.

Selanjutnya, kata Ibrahim, untuk Masker Standar bedah telah dilakukan pengadaan sebanyak 100 box, Masker N95 sebanyak 5 box, Hand Sanitizer 500 ML sebanyak 50 botol.

Selain itu, pihaknya juga telah mengusulkan untuk dilakukan pengadaan Disinfektan sebanyak 100 botol, sabun dethol dan sejenisnya yang bisa diadakan langsung di Kabupaten Bursel. (SBS/01)
- - - - - - - - - - -

Namrole, SBS 
Juru bicara Gugus Tugas Penanganan Penyebaran (GTPP) virus corona Kabupaten Bursel, Ibrahim banda menyatakan bahwa jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Buru Selatan (Bursel) hingga hari ini, Kamis (2/4/2020) malam telah bertambah menjadi 7 orang dari sebelumnya hanya 5 orang.

Jumlah ODP ini menjadi 7 ini, setelah merilis data terbaru lewat Tim GTPP dan pihak RSUD Namrole.

Kadis Kesehatan Bursel ini mengaku sesuai data terakhir, terdapat penambahan Dua orang ODP sehingga total ODP saat ini menjadi 7 orang. Dari data sebelumnya sebanyak 5 (Lima) ODP.

“Dua warga berstatus ODP ini masing – masing berinisial  G.K (52 Tahun) beralamat di Desa Oki Baru, yang bersangkutan dengan riwayat perjalanannya baru datang dari Surabaya dan mengalami gejala Flu,” kata Banda di auditorium lantai dua kantor bupati Bursel, Kamis (3/4/2020) malam.

ODP selanjutnya, berinisial, S.B (43 Tahun) beralamat di Desa Simi, Kecamatan Waesama, Bursel dengan riwayat perjalanan yang bersangkutan cukup panjang.

“Sesuai data yang diambil, S.B pada 26 Januari 2020 berada di German, kemudian 18 Februari ke Turki, 22 Maret ke Jepang selanjutnya 26 Maret ke Qatar, 29 Maret ke Jakarta, 30 Maret ke Makasar dan Ambon, di Namlea pada tanggal 1 April dan menuju Namrole pada 2 April. ODP ini mengalami gejala Pilek, Flu dan Batuk sementara kondisi  umumnya baik,” jelas Banda.

Namun kata Banda, setiap orang yang datang dari luar daerah apalagi yang masuk zona merah penyebaran virus corona (Covid-19) dan mengalami gejala, otomatis menjadi ODP.

Adapun langkah yang diambil oleh Tim dan pihak RSUD Namrole adalah mereka akan dipantau selama 14 hari untuk melihat perkembangan kesehatannya dan selama itu mereka menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing.

Selain itu, Banda membeberkan, perkembangan kesehatan 5 (Lima) ODP lainnya  berinisial A (20 Tahun) alamat di Desa Labuang, S.H alamat di Desa Waenono, Selanjutnya J (47 Tahun) alamat di Desa Oki Baru, J. H (28 Tahun) alamat di Desa Elfule setelah di karantina/diisolasi mandiri di rumah, perlahan -lahan mulai membaik setelah dicek dikesehatannya, namun akan menunggu sampai dengan genap 14 hari.

“Kondisi 5 ODP sebelumnya sudah mulai membaik, sementara satu orang ODP lainnya yaitu, H.W (22 Tahun) alamat di Desa Labuang masih ada sedikit  gejala Flu, batuk dan demam namun perlahan – lahan mulai sembuh,” terangnya.

Pada kesempatan ini, Banda menghimbau kepada Masyarakat di Burel selalu  Waspada dengan wabah Virus ini. Lakukan pencegahan dini dengan pola hidup sehat. (SBS/01)
- - - - - - - - -

Namrole, SBS 
Untuk menangani dan mencegah penyebaran Virus Corona secara tepat dan baik, DPRD Buru Selatan (Bursel) mendesak Pemda Bursel untuk segera membentuk Gugus Tugas Penanganan Penyebaran (GTPP) Virus Corona pada 81 desa yang ada di kabupaten tersebut.

“Pastikan lewat Ketua Tim hari ini diwakilkan oleh Bapak Sekda, pastikan bahwa 81 desa di Bursel harus terbentuk Gugus Tugas Penanganan Penyebaran Virus Corona itu. Gugus Corona itu harus terbentuk di semua desa dan kami lembaga DPRD akan memantau hal itu,” ujar Ketua Komisi III DPRD Bursel, Ridwan Nurdin saat rapat bersama GTPP Kabupaten Bursel di ruang rapat DPRD Bursel, Kamis (02/03/2020).

Menurutnya, semua masyarakat tidak perlu cemas, maka dari itu, untuk mengkoordinir semua informasi dan semua data dari setiap desa, maka harus dibentuk GTPP di setiap desa.

“Kita tidak ingin menerkah 78 ribu jiwa di Bursel, kita juga tidak perlu terlalu cemas, ini persoalan besar tetapi kita harus santai bila perlu ODP tidak perlu kita umumkan, khusus internal Buru saja, saat ini ketakutan yang kita berikan kepada masyarakat, ini juga memberikan dampak bagi masyarakat dan sangat berpengaruh kepada psikologi mereka,” katanya.

Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Bursel ini menjelaskan, Virus Corona dapat menyerang dan membahayakan manusia dengan kriteria yaitu lemah dalam iman dan lemah dalam imun.

“Corona itu dia serang soal iman dan imun kita. Jadi kalau iman tidak kuat sudah pasti imun atau daya tahan tubuh tidak kuat, dan kalau daya tahan tubuh tidak kuat sudah pasti Corona masuk dan serang kita. Kita serius tapi menggunakan cara-cara yang elegan supaya masyarakat tidak ditakuti-takuti Corona. Kalau nanti semua kran dikunci berarti kita harus kembali berkebun, ini yang bikin masyarakat tambah panik,” ujarnya.

“Semakin panik inilah, imun mereka rendah, maka mereka mudah terserang Virus Corona,” katanya lagi.

Dia menekankan, agar setiap desa yang dibentuk GTPP Virus Corona harus di sertai dengan SK, misalnya di Desa Waehotong siapa-siapa saja disertai SK, di Desa Biloro siapa-siapa saja dan SK seperti apa.

“Kami juga yang akan memberikan bantuan baik itu gaji DPRD mau di potong, SPPD mau dipotong yang jelas itu mau membantu mereka gugus-gugus yang ada di tingkat desa, tapi kalau 78 ribu jiwa lebih yang mau kita pikirkan, sampai mati juga kita tidak akan dapat solusi,” paparnya.

Dirinya juga menegaskan agar jika Lockdown yang diterapkan itu harus benar-benar efektif dan pemerintah juga harus memikirkan jika Lockdown itu terjadi, kelompok-kelompok mana saja yang harus dipikirkan.

“Kita harus lebih action di lapangan, pastikan semua desa ada titik-titik untuk kita koordinasi. Besok-besok semua Gugus harus terbentuk di semua desa sehingga progres lapangan juga jelas dan akan terjawab untuk data masuknya, baik itu dari Sulawesi Tenggara, dari Sanana, dari Buru, Kendari dan Bitung. Itu akan terjawab dengan sendirinya jika sudah ada tim gugus di setiap desa. Artinya GTPP Corona di Desa mengatur dia punya tupoksi masing-masing, jika ada kapal yang masuk gugus langsung bisa bekerja dan menanyakan kapal dari mana dan sebagainya,” pungkasnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Bursel asal Partai Golkar, Vence Titawael lebih mempertegas agar gugus tugas di setiap desa harus segera dibentuk, sehingga rentan kendali kerja dan koordinasi lintas dengan tim gugus kabupaten semakin dipermudah dan setiap desa selalu terpantau.

“Jadi kami minta supaya semua desa yang ada di Bursel ini ditempati oleh setiap gugus tugas dari desa tersebut, sehingga semua data, semua laporan tentang orang masuk dan kondisi orang-orang tersebut dapat terpantau dengan baik dan dapat dilaporkan secara berjenjang ke atas," tegas Titawael.

Sementara Sekda Kabupaten Bursel, Iskandar Walla yang hadir selaku Sekretaris GTPP Virus Corona Bursel mengatakan akan berkoordinasi dengan Bupati Bursel, Tagop Sudarsono Soulisa untuk bagaimana mengatur supaya GTPP juga bisa ada di setiap desa yang ada di Bursel.

"Untuk GTPP Virus Corona di desa akan kami sampaikan ke Pak Bupati selaku ketua GTPP Virus Corona Kabupaten Bursel," ucap Sekda. (SBS/02)
- - - - - - - - - -

Namlea, SBS 
Akibat pintu laut dan udara ke Kabupaten Buru masih dibiarkan terbuka bagi arus kedatangan manusia, kini status Orang Dalam Pengawasan (ODP) naik tajam menjadi 33 kasus.

Wartawan media ini melaporkan, sebelumnya ODP di Kabupaten Buru hanya 20 kasus. Kemudian 9 jemaah umroh yang baru balik dari Mekkah dan telah menjalani masa karantina mandiri 14 hari di rumah dan negatif tidak menderita sakit serta telah dicoret dari ODP, sehingga tertinggal 11 yang masuk kategori ODP.

Angka ODP ini kemudian naik tajam paska Bupati Ramly Ibrahim Umasugi meralat SKnya tertanggal 28 Meret lalu yang hendak menutup pintu dari arus manusia selama 14 hari sejak tanggal 1 s/d 14 April nanti.

Surat itu diralatnya sendiri tanggal 31 Maret tanpa ada disebutkan konsideran alasan dibatalkan SK sebelumnya.

Data yang diperoleh dari Jubir Covid19 Kabupaten Buru, Nani Rahim menyebutkan,  warga dari daerah terjangkit yang masuk lewat pelabuhan Namlea yang turun dari KM Dorolonda sebanyak 329 orang.

Penumpang yang turun itu berasal dari Jakarta, Surabaya, Bandung, Bogor, Kalimantan dan Makassar.

"Untuk warga yang masuk dari daerah terjangkit cukup banyak. Dari KM Dorolonda saja ada 329 orang yang berasal dari Jakarta, Surabaya, Bandung, Bogor, Jalimantan dan Makassar. Sehingga ODP yang tadinya turun dari 20 kasus  menjadi 11 kasus pada tangal 31 Maret, sekarang naik menjadi 33 kasus ODP," tulis Nani Rahim dalam pesan whatssappnya.

Dari 22 OPD baru ini, sesuai hasil penelusuran terungkap, ada sebanyak Empat orang yang tidak diperbolehkan pulang untuk jalani karantina mandiri di rumah.

Keempatnya diperlakukan khusus dan sedang diinapkan di Penginapan Silta yang letaknya dekat dengan RSU Lala. Mereka dalam pengawasan medis dan aparat keamanan.

Nani Rahim yang ditanya perihal empat ODP yang mendapat perlakuan khusus ini turut mengiyakannya. Dari keempat orang ini, tiga penduduk Buru dan satu lagi asal Namrole, Buru Selatan.

"Mereka menempati kamar masing-masing, di awasi oleh petugas keamanan. Gejala rata-rata batuk. Ada yang dengan riwayat demam.  Ada yang tinggal di wilayah dengan warga meninggal karenA positif covid," ungkap Nani Rahim.

"Setiap hari ada petugas kesehatan yang melakukan pemeiksaan dan pemantauan. Diinapkan sampai 14 hari," tambahkan Nani Rahim.

Ketika ditanya kesigapan satgas dan tenaga kesehatan untuk menjaga kemungkinan terburuk, Nani Rahim mengawalinya dengan mengucapkan kalimat Alhamduillah. "APDnya  sudah  diterima RSU Namlea. APD lengkap 2 pasang, Baju hazmat 50 buah, masker N95 2 boks, masker bedah 2 boks dan rapid test 2 boks," ujarnya.

Namun diakuinya, kalau yang sudah ada di tangan kesehatan Kabupaten Buru itu masih belum memenuhi kebutuhan. Karena itu Pemkab Buru sendiri ada memasok tambahan ADP lengkap sebanyak 200 pasang

Saat diberitahu ada keterangan dari staf ahli gubernur yang menginformasikan ada pasukan 2000 ADP dan 6000 rapid test yang telah tiba dan akan didistribusikan ke 11 kabupaten/kota, jubir covid19 Buru ini mengaku belum dikirimi bantuan tersebut.

"Saya belum konfirmasi ke Dinkes provinsi. Mudah-mudahan Buru bisa dapat lebih mengingat banyaknya jumlah ODP saat ini, yang sewaktu-waktu bisa saja statusnya naik menjadi PDP atau kasus positif," pungkasnya.(SBS/11)
- - - - - - - -

Namrole, SBS 
Di tengah kewaspadaan akibat Pandemi Virus Corona atau Covid-19, Pemerintah Kabupaten Buru Selatan (Bursel) menggelar Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) Tahun 2021.

Musrembang kali ini agak berbeda dengan Musrembang tahun-tahun sebelumnya, karena Musrembang kali ini dibuka oleh Bupati Bursel, Tagop S Soulisa dengan hanya menggunakan video confrence dan disaksikan oleh perserta Musrembang di ruang Aula Serbaguna Namrole, Rabu, (01/03)

Pelaksanaan Musrenbang tampak digelar secara terbatas oleh Bappeda Bursel dan tidak melibatkan banyak peserta/Kepala OPD setempat demi mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Sejumlah Kepala OPD lainnya menggunakan miting online di Kantor masing-masing.

Bupati lewat video confrence mengatakan, situasi saat ini tidak kondusif. Saat ini kita berada dalam keadaan duka dan kewaspadaan yang mendalam akibat mewabahnya covid 19 yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sebagai bencana non alam nasional.

Tagop menyampaikan penyebaran Covid 19 termasuk sangat cepat, untuk itu pelaksanaan Musrembang tingkat Kabupaten Bursel yang dilaksanakan saat ini pun telah diatur sesuai dengan prosedur pencegahan, yang diatur dalam surat edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 440/2552/SJ, Tanggal 23 Maret 2020, tentang pelaksanaan Musrenbang RKPD Provinsi, Kabupaten/ Kota Tahun 2021, yang pelaksanaannya menggunakan Teknologi Informasi (IT) yang tersedia.

"Saya berharap bahwa kita sekalian dapat menyesuaikan kondisi ini sebagaimana mestinya, agar proses perencanaan pada tingkat Kabupaten ini dapat tetap berjalan dengan baik. Wabah Virus Corona atau Covid-19 telah membatasi ruang gerak untuk melakukan aktivitas banyak orang," kata Tagop.

Namun, lanjutnya, dengan teknologi yang ada disaat ini diharapkan kita bisa menjalankan tugas-tugas dan pegabdian kita kepada masyarakat.

Dia menambahkan, di tengah penyebaran Virus ini berbagai kebijakan pun telah di tempuh oleh pemerintah daerah sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yakni;

Pertama, membentuk Tim Gugus Tugas Pencegahan Penyebaran dan Percepatan penanggulangan covid-19 Kabupaten Bursel.

Kedua, Menginstruksikan kepada seluruh ASN tentang penyesuaian sistem kerja ASN dalam rangka pencegahan covid-19 di Kabupaten Bursel.

Ketiga, Memberikan himbauan kepada pimpinan lembaga keagamaan terkait pencegahan Covid 19.

Keempat, Menginstruksikan penutupan sementara pintu masuk dan keluar Kabupaten Bursel per tanggal 27 Maret 2020 sampai dengan 31 Maret 2020, diperpanjang masa penutupan hingga 14 hari kedepan, terhitung sejak tanggal 01 April s/d 14 April 2020.

"Pemerintah Daerah Bursel terus berupaya melaksanakan tahapan-tahapan perencanaan pembangunan daerah, dimana pada saat ini sudah sampai pada tahapan Musrembang RKPD Kabupaten Bursel Tahun 2021," ucapnya.

Sementara itu, pelaksanaan agenda Musrembang RKPD direncanakan akan berlangsung pada Rabu 1 April hingga Kamis 2 April 2020.

Pemateri dalam agenda itu diantaranya, Plt Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Maluku, Djalaludin Salampessy dengan menggunakan miting Online.

Sementara penyampaian materi oleh Kepala Bappeda Litbang Bursel, Kader Tuasamu dengan tatap muka dipandu oleh moderator Iksan Laisow selaku Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Bappeda Bursel.

Turut hadir, Ketua DPRD Bursel Muhajir Bahta, Wakil Ketua DPRD Bursel, La Hamidi dan Anggota DPRD serta peserta lainnya dari Perwakilan Dinas/Badan/Kantor Kecamatan. (SBS/07)
- - - - - - - - - -

Ambon, SBS 
Gubernur Maluku, Murad Ismail menyatakan, pasien positif Corona Virus Disease 19 (Covid-19) berinisial AA yang selama ini diisolasi dan dirawat di RSUD dr. Haulussy Ambon, kini dinyatakan sembuh dan dinyatakan telah negatif dari Covid-19. Dan dengan demikian Maluku telah negatif dari Covid-19.

Demikian diungkapkan Gubernur Maluku, Murad Ismail, bersama dengan Tim Dokter dan Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku di Ambon, Rabu (1/4/2020) seperti dirilis humas Pemprov Maluku.

Dalam rilis, Gubernur mengatakan, setelah tanggal 22 Maret 2020, pasien tersebut dinyatakan positif telah terpapar Covid-19 dan disebut sebagai Kasus 01, dirinya langsung ditangani tim medis di RSUD dr. Haulussy sesuai dengan standar pengobatan. Selanjutnya, semua orang yang memiliki riwayat kontak dengannya juga dikarantina.

“Alhamdulillah, delapan hari kemudian setelah dilakukan pemeriksaan kedua, kasus 01 dinyatakan negatif. Sehari berikutnya dilakukan pemeriksaan ketiga, hasilnya juga negatif, dan bersangkutan dinyatakan telah sembuh,” kata Gubernur yang kini mengambil alih Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku.

Dijelaskannya, dari penelusuran Tim Gugus Tugas, ditemukan sebanyak 102 orang yang pernah berinteraksi dengan Kasus 01. Setelah diperiksa, hasilnya sebanyak 73 orang juga negatif, sementara 29 orang lainnya akan diketahui hasilnya nanti.

“Pemprov Maluku mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam upaya pencegahan dan penanggulangan Covid-19, baik tenaga medis, Gugus Tugas, TNI-Polri, dan masyarakat,” ucapnya.

Mantan jendral Polri ini mengingatkan, perjuangan untuk mencegah penyebaran virus mematikan ini belum berakhir. Untuk itu, dia berharap Bupati dan Walikota beserta jajarannya serta semua masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan kesiap-siagaan, serta tetap melakukan langkah-langkah pencegahan Covid-19 di lingkungannya masing-masing.

“Saya minta kita semua untuk tetap berikhtiar, tetap jaga jarak, dan ikutilah aturan yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah, serta tetap berdoa kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa semoga kita selalu dijahukan oleh virus tersebut,” pintanya.

Disampping itu, dirinya juga menyampaikan informasi Covid-19 di Maluku per tanggal 1 Maret 2020, dimana jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 132 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 8 orang. Para ODP dan PDP ini tersebar di 11 Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku. (SBS/09)
- - - - - -
Namrole, SBS 
Setelah penutupan akses masuk dan keluar diberlakukan oleh Pemda Bursel selam 5 hari terhitung dari tanggal 27 sampai 31 Maret 2020 lalu, kini Pemda Bursel terus memperpanjang masa penutupan trasnportasi laut, udara dan darat selama 14 hari kedepan.

Kebijakan penutupan trasnportasi selama dua minggu, khusus untuk orang ini dilakukan guna mencegah penyebaran Virus Corona masuk di kabupaten Bursel.

“Jadi yang jelas Pemda Bursel mengatisipasi berbagai hal menyangkut penyebaran Virus Corona dan langkah-langkah yaitu dari tanggal 24 Maret kemarin kita sudah melakukan karantina terbatas wilayah Kabupaten Bursel. Dimana pintu masuk dan keluar itu kita sudah tutup tapi tidak dibatasi untuk distribusi logistik barang dan bahan makanan. Sedangkan untuk manusia di batasi. Habisnya tanggal 31 Maret ini, tapi dilanjutkan lagi selam 14 hari ke depan sesuai dengan situasi dan kondisi nasional,” kata Bupati Bursel Tagop Sudarsono Soulisa saat meninjau ruang isolasi RSUD Namroel, (31/03/2020). 

Sebagai daerah yang masih negatif untuk penyebaran Virus Corona, Bupati dua periode ini tak lengah, namun terus melakukan antisipasi dengan melakukan pembatasan-pembatasan tersebut. 

Menurut Tagop, mesti dipahami bahwa Pemda Bursel mengambil langkah ini berkaitan dengan situasi nasional, daerah seperti daerah yang sedang berkembang dengan keterbatasan infrastruktur serta pegawai medisnya. 

“Lebih baik kita mencegah dari pada kita mengobati. Prinsipnya seperti itu,” ujar Tagop.

Lanjutnya, kendati demikian, bukan berarti Bursel tidak siap, tetapi Pemda Bursel sudah siap untuk segala kondisi.

“Kalaupun nanti ada yang PDP, kita bisa mengisolasi mereka di ruang isolasi yang disiapkan dan melihat sejauh mana perkembangannya. Kita berharap mudah-mudahan tidak sampai ke tingkat itu,” tuturnya.

Untuk kecamatan lain pun, Tagop menjelaskan semua terpantau pintu masuk utama dari kecamatan tersebut. Misalnya di Kecamatan Waesama, di Modan Mohe. Kemudian di Namrole ada Bandara dan Dermaga. Selanjutnya, di Kepala Madan dan Leksula itu semua sudah dilakukan pengawasan.

“Kalau di Modan Mohe itu kita sudah beberapa hari disana dan peralatan pengukur suhu tubuh dan alat pendukung lainnya sudah kita sebarkan untuk pemantauan dan pengawasan di lapangan. Yang jelas kita mengambil langkah-langkah ini juga berkoordinasi dengan pemerintah,” kata Tagop.

Ia menjelaskan, memang Undang-Undang tentang Karantina atau Lockdown wilayah itu merupakan kewenangan pemerintah pusat, tetapi untuk situasi seperti, dirinya sebagai pimpinan di daerah, dan yang bertanggung jawab terhadap masayarakat mengambil langkah-langkah agar lebih antisipatif.

“Pempus tidak tahu dengan kondisi daerah dan langkah-langkah itu yang kami ambil untuk bisa mengantisipasai berbagai permasalahan yang terjadi akibat dari pada penyebaran Covid-19,” paparnya. 

Sementara untuk ketersedian selama pembatasan transpotasi sendiri menurutnya untuk Bursel masih aman, naumn ia mengajak agar masyarakat Bursel jangan terlalu bergantung kepada beras tetapi memanfaatkan pangan lokal.

“Untuk ketersedian pangan kita terus cek di lapangan dan dalam waktu dekat juga kita akan ambil langkah-langkah antisipatif untuk menjaga jangan sampai inflasi yang begitu tinggi walaupun secara nasional sudah terjadi. Makanya saya himbau kepada masyarakat agara jangan sekali-kali bergantung kepada beras, mari kita kembali ke pangan lokal, bagaimana kita  kembali dan mengkonsumsi umbi-umbian sehingga ketergantungan kita kepada beras itu lebih berkurang,” ajaknya.

“Kita jangan sudah keenakan makan beras kalau dengan situasi ini, jika beras kurang maka mau tidak mau kita harus kembali ke pangan lokal kita yaitu umbi-umbian. Jadi untuk masalah sampai saat ini kita masih aman,” tuturnya. (SBS/02)
- - - - - - - - - - -
Namrole, SBS 
Pemerintah Bursel telah menyipakan sebanyak 12 ruangan untuk mengantisipasi jika ada Pasien Dengan Pengawasan (PDP)  terdeteksi di Kabupaten tersebut.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bursel, Ibrahim Banda kepada wartawan di RSUD Namrole, Selasa (31/03).

“Sebenarnya ada 12 ruang isolasi yang disiapkan Pemda di RSUD Namrole untuk menangani jika ada pasien PDP Covid 19,” kata Banda.

Untuk saat ini, kata Banda, sudah ada empat yang bisa digunakan, sementara delapan lainnya dalam tahap persiapan karena terkendala beberapa masalah teknis.

“Empat ruang darurat itu sudah bisa digunakan, yang delapan ini masih ada sedikit permasalahan di air saja, karena ada yang tersumbat dan sementara diperiksa. Jika semua difungsikan bisa menampung kurang lebih 50 tempat tidur,” sebutnya.

Terkait ODP dan PDP, Ia menjelaskan, seharusnya masyarakat paham dan mengerti, karena untuk mengkategorikan seseorang ODP itu kriteria-kriterianya sangat gampang.

“Ketika seseorang itu dia datang dari daerah terpapar dan dia bergejala flu ata dia batuk dan demam itu langsung kita kategorikan dia dalam Orang Dalam Pemantauan atau ODP, tapi belum tentu dia itu pembawa virus corona. Kita hanya karantina dia di rumah itu sampai 14 hari dan benar, orang pertama, kedua dan ketiga ODP disini itu ternyata sudah berangsur-angsur membaik, karena mungkin perubahan cuaca  atau dia cape saja,” kata Banda.

Jika, para ODP ini dilakukan perawatan dan di isolasi di RSUD, maka itu bukan ODP tetapi mereka sudah masuk ke kategori Pasien Dengan Pengawasan (PDP), padahal mereka cuma ODP, dan itu juga akan mempengaruhi psikologi mereka.

Tetapi, lanjutnya, sekecil-kecil apapun gejala yang dia alami, kalau yang bersangkutan dari daerah terpapar Corona lebih baik dikelompokan sebagai ODP, sebab menggampangkan Gugus Tugas Penanganan Penyebaran (GTPP) Covid 19 mengawasinya, dan kalau nantinya terjadi sesuatu, maka GTPP sudah punya data dan persiapan untuk itu.

“Untuk tiga orang yang kondisinya sudah membaik itu belum bisa kita bebaskan juga karena masa inkubasinya 14 hari. Jadi kita harus tunggu satu minggu kedepan lagi kalau tidak terjadi apa-apa dan sembuh berarti selesai. Tetap setelah itu kita pantau lagi selama satu minggu artinya selama dia jalan juga tetap kita pantau,” tambahnya.

Sementara, PDP adalah orang yang sebelumnya ODP, namun mengalami beberapa gejala seperti influenza sedang hingga berat seperti batuk, pilek, demam, dan gangguan napas dan tidak menunjukan perubahan apa-apa setelah di obati.

"Kalau yang seperti  ini langsung secara khusus kita jadikan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Artinya orang ini harus dirawat, karena dia dirawat jadilah dia pasien," tandas Banda. 

Banda menjelaska bahwa sebelumnya OPD di Bursel hanya berjumlah 2 orang yang berinisial A dan SH. Namun, setelah dicek Senin (30/03) malam dari Tenaga Kesehatan dan RSUD ternyata OPD sudah bertambah menjadi 5 orang dan datanya telah dikirim ke Tim Covid-19 Provinsi Maluku tanpa terlebih dulu dikasitau kepada pihaknya.

“Saya baru saja dikasih tahu oleh Tim Kesehatan. Padahal saya sudah terlanjur kasih info kepada bahwa hanya 2 orang yang baru  terindikasi ODP dan belum ada penambahan,” tutur Kadis Kesehatan Bursel, Ibrahim Banda ketika dikonfirmasi Senin (30/03) malam. 

Banda menyebutkan, info terakhir ada penambahan 3 orang ODP, setelah didata dan diperiksa oleh Tim dan pihak RSUD. Pasien ODP diantaranya, berinisial J beralamat di Desa Oki Baru. Kemudian HW beralamat di Desa Labuang dan JFH yang beralamat di Desa Elfule.

Ia menjelaskan, sesuai data yang dilaporkan oleh Tim Kesehatan, pasien berinisial J (47 Tahun) sebelum ke Namrole, telah melakukan perjalanan beberapa hari datang dari Batam - Jakarta - Ambon – Namlea - Namrole, dan mengalami gejala batuk disertai demam.

Sedangkan OPD berinisial HW (22 Tahun),  baru saja datang ke Namrole setelah melakukan perjalanan dari Ambon - Namlea - Namrole dan mengalami batuk, pilek dan demam.

Sementara OPD berikutnya, berinisial JFH (28 Tahun) diketahui beberapa hari lalu baru datang dari Ambon dan mengalami, batuk, flu dan demam.

Dirinya menjelaskan, setiap warga yang datang dari luar daerah yang masuk zona penyebaran Virus Corona (Covid-19) dan mengalami gejala, otomatis menjadi ODP.

Untuk itu, langkah yang diambil oleh Tim Kesehatan dan RSUD Namrole adalah warga-warga dimaksud akan dipantau selama 14 hari untuk melihat perkembangan kesehatannya. Dimana, para ODP ini akan menjalani Karantina/Isolasi mandiri dirumah masing-masing dan dalam pantauan Tim TGPP dan pihak RSUD.  (SBS/AL)
- - - - - - - -

Namrole, SBS 
Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Buru Selatan (Bursel) merilis data terbaru, yang menyebutkan jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) Covid-19  di daerah Bursel kini sudah bertambah mencapai 5 orang.

Kadis kesehatan Bursel, Ibrahim Banda, setelah dikonfirmasi ulang menyebutkan adanya penambahan 3 ODP Covid-19 dari hari sebelumnya, yang hanya berjumlah 2 orang  berinisial (A) dan (S.H).

Dia menuturkan, pada senin (30/3) malam terkonfirmasi ulang pada jam 21.00 WIT dari petugas kesehatan dan pihak RSUD,  dimana jumlah ODP Bursel bertambah menjadi 5 orang, dan datanya telah dikirim ke Tim Covid-19 Propinsi Maluku tanpa terlebih dulu dikasitau kepada dirinya.

“Saya baru saja dikasi tahu oleh tim kesehatan padahal saya sudah terlanjur kasi info kepada media tadi siang, bahwa hanya Dua orang yang baru  terindikasi ODP dan belum ada penambahan,” tutur Kadis Kesehatan Bursel, Ibrahim Banda ketika dikonfirmasi ulang artawan ini.

Banda menyebutkan, Info terakhir ada penambahan 3 orang ODP, setelah didata/diperiksa oleh Tim dan pihak RSUD. Pasien ODP diantaranya, berinisial (J),  alamat Oki baru, (HW) Alamat desa Labuang, (J.F.H) Alamat Desa Elfule.

Ia menjelaskan, sesuai  data yang dilaporkan oleh Tim kesehatan, pasien berinisial J (47 Tahun) sebelum ke Namrole, telah melakukan perjalanan beberapa hari datang dari Batam – Jakarta – Ambon – Namlea- Namrole, dan mengalami gejala Batuk dan batuk disertai demam.

Pasien selanjutnya, berinisial H. W (22 Tahun),  baru saja datang dari datang setelah melakukan perjalanan dari, Ambon – Namlea – Namrole dan mengalami batuk, Pilek dan demam.

Pasien berikutnya, berinisial J. F. H (28 Tahun) baru saja tia di Namrole dan beberapa hari lalu datang dari Ambon dan mengalami, batuk, Flu dan demam.

dirinya mengatakan masyarakat yang datang dari luar daerah yang masuk zona penyebaran virus corona (Covid-19) dan mengalami gejala, otomatis menjadi ODP.

Untuk itu, langkah yang diambil oleh Tim dan RSUD Namrole, adalah mereka akan dipantau selama 14 hari untuk melihat perkembangan kesehatannya. Para ODP ini menjalani karantina/Isolasi mandiri dirumah masing – masing dan dalam pantauan Tim TGPP dan pihak RSUD.

Sementara itu, kondisi dua Orang Dalam Pemantauan sebelumnya (ODP) berinisial (A) dan (S.H) setelah diisolasi mandiri di rumah, perlahan-lahan mulai membaik setelah dipastikan oleh tim kesehatan RSUD Namrole dan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP). (SBS/02)

- - - - - - - - - -
Namrole, SBS 
Langkah antisipasi terhadap penyebaran virus Corona di Buru Selatan terus berlangsung dari hari ke hari. 

Sejumlah elemen masyarakat dan berbagai komunitas ikut ambil bagian dalam upaya ini.

Tak ketinggalan, Jemaat GPM Labuang dibawa Pimpinan Pdt HR Lessil/S ikut menggelar aksi peduli dalam upaya pencegahan COVID-19.

Aksi ini dilakukan dengan penyemprotan disinfektan di areal Gereja Wae Fuhan Prangit Labuang, rumah warga Jemaat dan masyarakat di kawasan Desa Labuang, Kecamatan Namrole, Kabupaten Buru Selatan, Senin (20/03/2020).

Pantauan Media ini di lokasi penyemprotan, aksi Jemaat berlangsung dengan melibatkan AMGPM Ranting Talitakumi Labuang, Wadah Pelayanan Laki - laki (Pelpri), Wadah Perempuan (Pelwata), Pengasuh SMTPI. 

Kepada Orasi Rakyat, Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang, Pdt HR Lessil/S mengatakan, kegiatan penyemprotan yang dilakukan hari ini untuk mengantisipasi penyebaran dan penularan Virus Corona yang semakin meresahkan masyarakat saat ini, khususnya di Bursel. 

"Langkah yang dilakukan oleh Jemaat GPM Labuang ini, merupakan bentuk kepedulian untuk mencegah mewabahnya Virus Corona di lingkungan tempat tinggal Jemaat maupun tempat umum," jelas Lessil.

“Ini hanya inisiatif Jemaat sendiri, langkah ini kami lakukan semata-mata untuk mencegah lingkungan sekitar dari penyebaran Virus Corona” sebutnya. 

Kegiatan penyemprotan ini, lanjut Lessil, merupakan gerak cepat dari Jemaat GPM Labuang dalam upaya mengatasi penyebaran Virus Corona.

Diketahui, Virus Corona atau Covid-19 adalah virus yang sangat cepat penularannya, bisa menyerang seluruh penduduk dalam satu wilayah, meskipun jumlah penduduknya sangat besar.
"Tindakan penyemprotan Disinfektan ini kita lakukan untuk pencegahan penyebaran Virus Corona, agar jemaat maupun masyarakat yang ada di Desa Labuang ini bebas dari Covid-19. Bagi kami, lebih baik mencegah darip mengobati," paparnya.

Menurutnya, untuk kemanusiaan dan kemaslahatan banyak orang, setiap orang punya tanggungjawab moril yang sama. Itu sebabnya Jemaat GPM Labuang berinisiatif melakukan langkah pencegahan di lingkungan sekitarnya.

Selain itu, Lessil juga menyampaikan kepada Jemaat dan masyarakat, agar selalu berperilaku hidup bersih dan sehat. Bagi Jemaat atau masyarakat yang baru pulang dari luar daerah untuk segera melaporkan kepada Pemerintahan Desa atau Puskesmas terdekat.

Selaku pimpinan Jemaat, ia juga menghimbau kepada masyarakat untuk mengurangi aktifitas diluar rumah jika tidak ada keperluan yang sangat mendesak atau Social Distancing.
"Kami harap warga Jemaat maupun masyarakat lebih menerapkan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Selalu mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer sesudah melakukan aktifitas diluar rumah," harapnya.

“Semoga langkah kami hari ini bisa sedikit membantu pemerintah dan masyarakat di lingkungan ini, agar kita semua dapat terhindar dari ancaman penyebaran virus Corona,” pungkasnya. (SBS/02)
- - - - - - - - - - -

Namrole, SBS 
Jalan Lalu Lintas Antar Namrole Kabupaten Buru Selatan (Bursel) - Namlea Kabupaten Buru ditutup mulai hari Sabtu 28 Maret 2020 sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Kebijakan ini dilakukan lantaran penyebaran virus corona atau Covid-19 semakin mengkhawatirkan.

"Jalur lalu lintas ini akan ditutup dengan waktu yang tidak ditentukan," kata Kepala Dinas Kesehatan, Ibrahim Banda kepada wartawan, Sabtu (28/03). 

Ibrahim menyebutkan dengan penutupan arus lalu lintas itu, masyarakat tidak boleh melintas di jalan tersebut. Hal ini dilakukan untuk mempersempit ruang gerak masyarakat agar tidak beraktivitas di luar rumah.

Warga yang diperbolehkan melintas saat waktu penutupan jalan hanya yang punya kepentingan mendesak. Itu pun, kata Ibrahim, harus diperiksa sangat selektif.

Menurutnya, arus lalu lintas yang ditutup akan dijaga ketat personel gabungan antara lain Satpol PP, TNI-Polri  Dinas Perhubungan BPBD dan Tenaga Kesehatan yang semuanya berasal dari Bursel. 

"Teknisnya kita akan blokir jalan tersebut dengan menempatkan water barrier. Selain itu juga akan dijaga petugas gabungan. Pada titik penutupan ada petugas, jika ada yang ingin melintas, nanti akan diarahkan, atau disuruh pulang, tinggal di rumah," tegasnya.

Kata Ibrahim, jalur lalu lintas yang ditutup ini merupakan akses yang biasa dilalui masyarakat ketika hendak ke pusat kota atau pusat perbelanjaan.

"Jalan ini menghubungkan kawasan penduduk ke Buru Selatan dan Buru Utara. Kita ingin masyarakat untuk tetap berada di rumah, pemerintah juga tidak mau mematikan mata pencarian masyarakat. Makanya ada waktunya jalan dibuka dan ditutup," imbuh Ibrahim.

Menurut Ibrahim, semua tenaga dalam bentuk gabungan telah digerakan. Namun masih menglami kekurangan dalam bentuk Logistics dan Konsumsi bagi mereka yang bertugas di Pos ini, akan tetapi dalam waktu dekat semuanya sudah terpenuhi. 

Ibrahim meminta masyarakat diminta untuk menaanti ketentuan, karena ini demi kesehatan dan keselamatan umum. Juga untuk petugas gabungan untuk dapat melakukan tugasnya dengan baik.

"Sebab kalau bukan kita yang berperan, siapa lagi, kalau kita tidak bergerak sekarang, kapan lagi," ungkap Ibrahim mengahkiri KK keterangannya. (SBS/07)
- - - - - - -


Namrole, SBS 
Tim Satgas Pemda Bursel bersama TNI - Polri sementara menggalakan kegiatan patroli ke seputaran Kota Namrole yang merupakan pusat kota Kabupaten Buru Selatan (Bursel) ini untuk mengimbau warga yang berkumpul agar membubarkan diri dan diam di rumah.

Patroli ini rutin digelar setiap malam hari yang dimulai sejak pukul 21.00 - 23:00 WIT. Dimana, patroli ini dilakukan untuk mencegah penyebaran Virus Corona atau COVID 19 yang sungguh mengacam kehidupan manusia saat ini.

Hal itu dikatakan Kasat Satpol PP Kabupaten Bursel, Asnawi Gay selaku Ketua Tim Patroli kepada wartawan, Sabtu (28/3) malam.

"Patroli bersama TNI - Polri dan aparat Pemda ini, juga sesuai instruksi Bupati Bursel, agar tidak ada massa yang berkumpul untuk mencegah penyebaran virus corona," kata Asnawi.

Menurut Asnawi, patroli untuk mengimbau massa yang berkumpul agar membubarkan diri ini merupakan langkah preventif yang dilakukan pihak Pemda dalam mencegah penyebaran Virus Corona.

"Dalam patroli, kami menghimbau masyarakat yang masih berkumpul agar kembali ke rumah masing-masing. Kita tidak membubarkan paksa, tetapi menghimbau," kata Asnawi.

Dalam patroli selama 3 hari ini belakangan ini, lanjut Asnawi, kelompok massa yang berkumpul selalu mengerti dan menuruti imbauan petugas yang patroli.

Sebab, kata Asnawi, petugas melakukannya dengan pendekatan humanis.

"Massa yang berkumpul selalu mengerti saat kita imbau, agar tidak usah berkumpul bersama dan lebih baik diam di rumah saja. Mereka selalu kembali ke rumah saat kami imbau. Sebab kami lakukan secara humanis. Ini adalah salah satu cara memutus mata rantai Covid 19. Patroli kami bersama TNI - Polri dan pemerintah daerah dilakukan saat malam hari," papar Asnawi.

Menurut Asnawi, dalam kegiatan patroli ini, kebanyakan anak muda yang masih berkumpul di beberapa tempat. Namun mereka biasanya menuruti imbauan petugas yang mengimbau secara humanis.

"Selain kita melakukan patroli untuk menghibau warga yang berkumpul agar pulang ke rumah mereka, kita juga membagikan selebaran kertas yang merupakan instruksi dan himbauan pak Bupati dalam pencegahan Virus Korona pada mereka agar mereka tau dan bisa mawas diri," jelasnya. 

"Kegiatan patroli yang kami lakukan ini diawali dan ditutup dengan apel dan doa bersama," tutup Asnawy. (SBS/07)
- - - - - - - - -